Loading

Bangun Generasi Mandiri, Perkenalkan Kewirausahaan Sejak Dini

03 Mar 2015

 

Pelatihan guru kembali dijalankan PT KRAKATAU POSCO selama 3 (tiga) hari, pada 3 – 5 Maret 2015 bertempat di Hotel Jayakarta Anyer. Mengangkat tema, “Child Social and Financial Education” pelatihan ini lebih menekankan pada aspek kemandirian dengan memperkenalkan konsep kewirausahaan dan edukasi sosial. Salah satu tujuan pelatihan ini untuk memperkenalkan kewirausahaan sejak dini. 

 
Meski pada umumnya kewirausahaan diidentikkan dengan bisnis, akan tetapi penekanannya lebih kepada aspek kemandirian. Bagaimana siswa dapat mandiri baik di sekolah maupun di rumah. Peserta training, dalam hal ini guru, diberikan pembekalan dan simulasi mengenai hak dan kewajiban anak atau siswa, peran dan tanggungjawabnya baik di rumah maupun di sekolah. Konsep pengembangan kemandirian anak ini lebih dikenal dengan Aflatoun. 
 
Gerakan Aflatoun merupakan gerakan yang fokus pada upaya untuk memberikan keadilan bagi anak-anak dalam memperoleh hak untuk meraih pendidikan. Gerakan Aflatoun bermula di India pada Tahun 1991 dimana Jeroo Billimoria melakukan research study mengenai perilaku siswa dari kalangan kaya dan miskin. Siswa dari kedua golongan tersebut kemudian digabungkan dalam satu komunitas sehingga dapat saling memahami bagaimana kehidupan masing-masing. Melalui studi tersebut, muncul pemahaman mengenai hak-hak anak secara universal dan membangun kemandirian siswa secara personal, finansial, dan sosial.
 
Sejak 2005 gerakan Aflatoun telah dijalankan secara global, termasuk di Indonesia, salah satunya di MTs Al Falah Kabupaten Pamekasan yang mulai berjalan sejak 2009. Dalam pembelajaran Aflatoun, anak di perkenalkan dengan berbagai situasi lingkungan, sosial, cinta kebersihan, keterampilan, gemar menabung, dan cara berfinansial. Salah satu upaya untuk mendukung terhadap aktivitas pembelajaran tersebut melalui pembentukan Klub Aflatoun sebagai wadah untuk memotivasi anak agar menyalurkan potensi dan bakat yang di milikinya. Implementasi Aflatoun menekankan pada 4 (empat) aspek hak-hak anak, yakni : 1) Hak Hidup 2) Hak perlindungan 3) Hak Partisipasi dan 4) Hak perkembangan. Melalui pemahaman terhadap hak-hak anak tersebut, guru dapat lebih mengeksplorasi potensi, minat, dan bakat yang dimiliki setiap anak. 
 
Partisipasi aktif dalam setiap aktivitas mendorong tumbuhnya sikap mandiri, berani, dan eksploratif. Pengenalan terhadap potensi di lingkungan sekolah menjadi pembelajaran dalam upaya menumbuhkan sikap wirausaha. Konteks kewirausahaan yang dijalankan siswa, lebih kepada pemberdayaan dan kemandirian, bukan eksploitasi anak. Peran guru menjadi penting dalam menjaga agar kewirausahaan tetap dalam koridor hak dan kewajiban anak.
Outcome dari pelatihan yang telah dijalankan tersebut, diharapkan dalam implementasinya di sekolah dapat memberikan inspirasi bagi setiap anak untuk mengembangkan potensi dan bakat yang dimilikinya, baik secara sosial maupun ekonomi.