Berita Perusahaan

Loading

How to Increase Market Competitiveness?

25 Apr 2016
Ekspor baja global tumbuh sebesar 9% pada 2014. Lebih dari 80% dari kenaikan itu disebabkan oleh peningkatan ekspor Cina. Pada tahun 2014, pertumbuhan permintaan baja jauh lebih rendah di Cina karena penurunan permintaan real estate, hasilnya, ekspor Cina melonjak. Harga yang lebih murahlah yang membuat baja Cina lebih menarik. Dan di tahun 2015, baja ekspor Cina terus meningkat menjadi 40,7% dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2014. 
Peningkatan jumlah perdagangan global merupakan salah satu pertanda atau juga bisa menjadi tekanan terhadap industri baja untuk bisa berkembang secara global. Para pelaku industri baja dapat menggunakan sumber daya mereka untuk melawan batasan perdagangan yang pasti ada dalam globalisasi pasar. Selain itu, para pelaku industri baja juga dituntut agar mampu lebih fokus agar semakin kompetitif, semakin efisien dan pada akhirnya dapat memenangkan pangsa pasar.
Hilangnya keunggulan kompetitif di dalam negeri membuat suatu negara akan menjadi sasaran empuk bagi produsen baja murah dari luar negeri. Hal seperti ini yang dirasakan oleh Amerika Serikat pada tahun 1980-2000 dengan masuknya produk baja dari Jepang, yang akhir-akhir ini mulai tergeser oleh adanya produk baja dari Cina.
Industri baja pada akhirnya juga harus merubah strategi mereka untuk dapat masuk ke pasar ekspor yang mereka inginkan. Di sisi lain, perubahan perilaku konsumsi pelanggan juga berdampak pada industri baja. Hasilnya, industri baja saat ini harus meningkatkan fokus pada diferensiasi produk, ekspansi ke daerah yang dekat dengan pelanggan dan juga mengatur ulang sistem rantai pasok mereka.
 
Diferensiasi produk
Industri baja saat ini berfokus pada peningkatan produk premium, yaitu produk dengan value-added. Beberapa industri baja kecil mampu meraup keuntungan yang lebih dibandingkan dengan industri dengan kapasitas yang  lebih besar dengan berfokus pada high-value product (produk bernilai tinggi). Pabrik-pabrik Eropa berbiaya tinggi di lokasi yang terpencil tetap bertahan dan tidak menutup pabriknya di saat krisis seperti ini karena mereka mampu bertahan hidup dengan berfokus pada produk dengan nilai tambah, misalnya Rautaruukki yang memproduksi baja konstruksi dan produk engineering steel, Saltzgitter yang berfokus pada pipa dan tube, dan SSAB yang berfokus pada heat-treated plate, high-strength steel dan juga pre-fabricated construction.
Sejumlah pembuat baja juga terlibat langsung dalam tahap awal pengembangan produk dengan klien mereka. Baosteel bekerja sama dengan klien mereka di sektor otomotif dan terlibat pada tahap awal pengembangan produk, berpartisipasi dalam perancangan desain dan juga proses pembuatan cetakan secara langsung. Meskipun produk Baosteel lebih mahal dibanding beberapa pesaingnya, reputasi kehandalan dan kualitas produk mereka membuatnya bernilai lebih.
 
Bergerak lebih dekat ke konsumen
Salah satu cara untuk fokus dan berorientasi kepada pelayanan adalah dengan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan. Sejumlah pabrik baja sudah mencari cara untuk bergerak lebih dekat ke pelanggan mereka dengan tujuan meningkatkan daya saing mereka. Hebei Iron & Steel mengakuisisi saham mayoritas di perusahaan perdagangan milik Duferco, untuk lebih memahami permintaan pasar dan beroperasi secara lebih efektif di pasar internasional.
POSCO telah mengembangkan strategi percepatan produk premium (Accelerated Premium Product) dengan mengintegrasikan teknologi, penjualan dan pemasaran, dengan meluncurkan POSCO technical service center yang baru-baru ini diresmikan di Mexico City sebagai bentuk pelayanan terhadap pelanggan. POSCO juga memperluas penjualan baja otomotif dengan menargetkan daerah strategis, melalui lokasi produksi di luar negeri dan jaringan penjualan mereka (Amerika Serikat dan China).
Namun di balik itu semua, muncul beberapa hambatan dalam bergerak mendekati pelanggan, antara lain:
· Ijin Lahan: POSCO dan ArcelorMittal mengalami masalah yang sama dalam mendirikan pabrik baja baru di India untuk memenuhi permintaan baja India karena masalah ijin lahan. Namun, mereka berdua berhasil berinvestasi di bisnis hilir untuk memenuhi permintaan pelanggan di India.
· Biaya energi: Tarif listrik di Uni Eropa dua kali lebih tinggi dan masih meningkat dibandingkan dengan daerah lain di dunia. Sebagai perkiraan, operasi pembuatan baja di Eropa sekitar USD 1 miliar lebih mahal dibandingkan dengan biaya pembuatan baja di AS.
· Peraturan Lingkungan: Kebijakan Eropa untuk pengurangan emisi GHG (gas rumah kaca) dan peningkatan energi terbarukan berdampak pada biaya pembuatan baja di Eropa. Apabila dihitung dengan harga karbon sebesar € 40 per ton dikombinasikan dengan pengurangan tunjangan emisi CO2 yang direncanakan Uni Eropa dan dampak tidak langsung dari tingginya harga energi, industri baja Eropa diperkirakan membutuhkan biaya tambahan sekitar € 58 miliar pada tahun 2020 hingga 2030.
 
Menyusun Rantai Pasok
Untuk perusahaan baja berskala global, perlu dilakukan optimasi rantai pasok yang juga berskala global. Segmentasi rantai pasok perlu dilakukan, salah satu contohnya adalah untuk menangani kelompok pelanggan high-volume (volume tinggi), low-variability (variabilitas rendah) dengan pelanggan low-volume (volume rendah), high-variability (variabilitas tinggi), atau juga pelanggan high-profit (profit tinggi) dengan pelanggan yang non-so-profitable (profit rendah) dari seluruh dunia, seperti yang dilakukan oleh TATA Steel dalam segmentasi produk mereka untuk meningkatkan rantai pasokan global. 
Pelaksanaan rantai pasokan strategis seperti ini juga membantu dalam membuat suatu perusahaan unggul dalam lingkungan bisnis yang sangat cepat berubah seperti ini. Untuk melihat proses rantai pasok tersebut berhasil atau tidak, maka diperlukan sebuah alat yang mampu untuk melihat keseluruhan proses dari A-Z. Teknologi baru yang memungkinkan untuk mengontrol pertukaran informasi antara industri baja dan supplier dalam rantai pasok secara real-time pada akhirnya akan diperlukan. Dan baru-baru ini lahir gagasan mengenai Industry 4.0. 
Sistem ini memungkinkan industri besar yang terintegrasi untuk mengoptimalkan serta menyederhanakan rantai suplai mereka, contohnya melalui sistem flexible factories. Sistem manufaktur yang dioperasikan secara digital juga akan membuka peluang-peluang pasar baru bagi UKM penyedia teknologi seperti sensor, robotik, 3D printing atau teknologi komunikasi antar mesin. Bagi negara-negara berkembang, Industry 4.0 dapat membantu menyederhanakan rantai suplai produksi. (Muhammad Sofyan Lazuardi, Business Planning Team)